English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google
Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju surga.(HR: Tarmidzi)

Coklat "Ceria"

20.12.10

Sejarah Nina Bobok

“Heh,, pergi sana! Dasar anak jalanan cuma bikin kotor aja.” seru seorang pemilik rumah kepada seorang anak yang diujung malang.
Si anak jalanan alias Tompel pergi dengan muka murung. Sudah tiap hari ia dicela orang-orang yang berhati baja. Nasibnya yang selalu jatuh ketiban tangga ia anggap wajar. Ia hanya anak kumuh tak punya apa-apa.
“Huh.. Sial..sial..sial… Kenapa ya hidupku melas gini? Padahal anak-anak lain bisa hidup enak-enakan.” gumam Tompel.
Ia akhirnya duduk termenung di tepi jalan ditemani sebuah kayu bersenar yang bisa bernyanyi. Cuma gitar itu yang menjadi teman setia dalam hidupnya selama ini. Setelah merenung beberapa jam akhirnya ia mengambil keputusan untuk mengamen lagi di bangjo seperti biasanya.
“Jreng..jreng..
Cring.. uang receh masuk ke kas Tompel yang terbuat dari bungkus chiki.
“Yah.. receh lagi receh lagi. Kalau tiap hari gini, kapan kayanya? e.. tapi nggak apa-apalah. Ngamen lagi ah,. Kali-kali aja dapat durian runtuh.” keluh Tompel.
“Jreng.. begini nasib jadi gelandangan, kemana-mana asalkan suka tak pernah hatinya bersedih…” suara Tompel dengan gitar kesayangannya.
Ternyata nasib Tompel cuma berujung pada uang receh.
Kali ini ia tak terlalu mengeluh lagi. Ia berjalan mencari tempat yang mungkin bisa dijadikan tempat peristirahatan semalam.
Tiba-tiba terdengar suara gadis.“Tolong… tolong.. dompetku dicopet.”
Tanpa berpikir panjang Tompel berlari mengejar pencopet. Pencopet pun terpojok.
“He..he.. mau kemana kamu sekarang?” kata Tompel dengan penuh percaya diri.
“Ha..ha.. eh, aku kasih tau ya..Di sini itu daerah kekuasaanku. Coba kamu liat di belakangmu.” balas si pencopet.
Ternyata empat teman si pencopet sudah bersiaga di belakang Tompel.
Dengan gaya sok pahlawan karena di depan seorang gadis Tompel berkata,” Halah, cuma kalian berlima aja aku nggak takut. Walau kalian ada seribu pun aku nggak bakal lari.”
“Brukk.. brukk.. (+-=+?’]’]!@_|+|=-=\||+?}]…
Tompel babakbelur. Mukanya sampai hancur kaya telur pecah. Ternyata Tompel pingsan. Si gadis akhirnya melarikan Tompel ke rumah sakit. Memang nasib Tompel yang selalu jatuh ketiban tangga.
Beberapa jam kemudian Tompel tersadarkan diri.
“Di mana aku? Kok ada malaikat disini? Apa aku sudah di surga?”
“Eh.. kamu itu nggak usah ngayal deh. Udah hancur gitu masih aja gombal. (maklum si gadis emang bener-bener cantik)
“Wah, baru kali ini aku melihat wanita secantik kamu” gombalan si Tompel. (maklum sebagai obat malu atas kejadian tadi)
“Huh.. malah ngegombal gitu (mukanya jadi merah). Kamu udah baikan belum?Kama kamu siapa?Kamu itu lucu deh..” kata gadis.
“Aku Tompel. Nama kamu siapa? eh, maaf ya tadi aku nggak bisa merebut dompetmu dari pencopet sialan itu? Sekarang malah ngrepotin kamu.”
“O, nggak apa-apa kok. Aku malahan mau bilang makasih yang banyak sama kamu. Berkat kamu aku tadi jadi sempat nelpon polisi jadi dompetku terselamatkan deh. Namaku Nina. Ini kartu namaku, kapan-kapan maen ke rumahku ya? Sekarang udah malam aku mau pulang. Nanti aku dimarahi nyokap. Bye…”
Nina bergegas pulang.
“Yah,. Sendiri lagi sendiri lagi.. “ gumam Tompel sambil keluar pintu rumah sakit.
Di sebuah trotoar Tompel mengambil posisi tidur. Sambil melihat cahaya bintang, malam terasa nyaman. Apalagi wajah Nina terbayang di angan-angan Tompel. Dia telah merasakan betapa nikmatnya jatuh cinta.
“Nina itu bener-bener cantik. Baik lagi. Kapan ya ketemu sama dia?! Tapi kan Aku cuma pengamen jalanan yang nggak punya apa-apa. Mana mungkin Nina ingat dan mau denganku. Ah, besok aja aku ke rumahnya. Aku kan udah punya alamatnya.”
Keesokan harinya Tompel pergi ke rumah Nina. Setapak demi setapak Tompel menuju rumah gadis yang selalu terbayang olehnya.
“Jalan Sukma no.14. Yak, pasti ini rumahnya.”
Teeet… Teeet… Teeett…
“ Kok nggak ada yang buka ya? Apa nggak ada orang kali. Mending aku lompat pagar aja. Tapi kok ada tulisan AWAS ANJING GALAK?! Ah, paling cuma akal-akalan aja biar nggak dimasuki maling.”
Setelah Tompel melopat tiba-tiba….
“Guukk.. Gukk..” Suara anjing galak berlari ke arah Tompel. Tompel mengambil langkah seribu menuju tangga naik ke sebuah pohon. Tompel merasa agak lega meski anjing galak masih menanti dibawahnya. Tiba-tiba tak disangka tangan kanan Tompel dijalari ulat. Dengan sangat kaget ia berteriak dan sampai terjatuh.
“Aaaaa… Brukk..”
Si anjing pun yang sudah stand by langsung menggigit-gigit Tompel.
“Guukk.. xxx/?/+-=-++-=–+_+)&^*$%!#$&….”
Tangga di pohon sempat menjatuhi Tompel. Sekarang dia benar-benar sudah jatuh ketiban tangga. Tompel sempat lari meski merasakan beberapa gigitan dari anjing.
“Masak cantik-cantik pelihara anjing galak?!” keluh Tompel.
Hari pertama ke rumah Nina dia sial tapi dia tetap ingin melanjutkan perjuangannya.
Hari kedua Tompel menuju rumah Nina. Ia melihat sekeliling rumah Nina. Ternyata anjing galak sudah terikat di kandangnya.
“Wah, aman.. “ kata Tompel.
Tapi kedatangan Tompel tak mengubah hidupnya karena Nina sedang tak ada di rumah hanya ada ibunya.
“Heh,, pergi sana. Dasar gembel.” usir ibu Nina.
Tanpa membantah satu kata pun Tompel mengikuti kata ibu Nina.
Berulang-ulang Tompel mencoba ngapel ke rumah Nina. Namun selalu saja sial karena menghadapi Ibu Nina dan anjingnya yang sama-sama galak.
Ketika itu, malam hari ia merenung dan berpikir bagaimana caranya supaya bisa ketemu Nina. Ia teringat lagu dari SO7 yang berjudul Radio. Akhirnya dengan perjuangan yang sangat keras dia menciptakan sebuah lagu yang diberi judul NINA BOBOK. Rencananya ia akan mendemonstrasikan lagu tersebut.
Saat itu sudah pagi. Tompel mondar-mandir mencari suatu Stasiun Radio yang mau bekerja sama dengannya. Semua stasiun telah didatangi Tompel dan mereka tidak bisa membantu Tompel karena tampang Tompel memang kurang meyakinkan. Dengan berpikir sampai otaknya terbalik akhirnya Tompel ingat satu stasiun yang belum ia datangi.
“O iya, aku belum pergi ke STAR (Stasiun Armada Radio). Semoga saja mereka mau membantuku karena hanya ini satu-satunya harapanku.” ucap Tompel.
Di sana Tompel sampai mengemis-ngemis. Dan akhirnya Tompel diberi kesempatan untuk membawakan lagu ciptaannya.
“Terima kasih. Lagu ini saya ciptakan dan saya persembahkan untuk seseorang yang saya sayangi yaitu Nina. Lagu ini berjudul Nina Bobok.”
“Nina bobok.. oh, Nina bobok.. kalau tidak bobok digigit nyamuk..”
Kebetulan waktu itu Nina sedang mendengarkan radio. Ia sangat terkesan mendengarkan lagu yang diciptakan seorang anak jalanan yang hanya khusus untuknya. Tak disangka banyak orang yang menyukai lagu itu. Lagunya itu menjadi populer. Namun betapa bodohnya Tompel. Ia tak menyebutkan namanya waktu itu. Akhirnya lagu itu terkenal dengan sendirinya tanpa ada yang tahu pencipta lagu tersebut. Meski Tompel mengakuinya tapi banyak orang yang tidak percaya. Memang nasib Tompel selalu berujung sial.
Suatu saat dengan penuh keberanian Tompel pergi ke rumah Nina. Ketika itu ibu Nina yang membukakan pintu tapi anehnya ibu Nina tidak mengusir Tompel lagi.
“Maaf mengganggu. Apa Nina ada?” tanya Tompel.
“Nina ada. Kamu siapa? Ada perlu apa?” kata ibu Nina.
“Saya Tompel teman Nina”.
“O.. Nak Tompel. Silakan masuk.” perintah Ibu Nina.
Tompel masuk rumah dengan hati yang bergoyang karena heran kenapa Ibu Nina tidak mengusirnya lagi.
“Nina..Nina.. ini dicari teman kamu..” kata ibu Nina.
Dengan berlari Nina menuju ruang depan. Ia sudah mengira bahwa Tompel akan datang.
“Aku ke dapur dulu ya, kalian ngobrol-ngobrol aja” kata Ibu Nina.
“Iya Bu.” jawab mereka kompak.
“Nin, kok ibu kamu nggak ngusir aku lagi sih?”
“Emang kamu mau diusir lagi?”
“Ya enggaklah…”
“Gini, aku cerita sama ibu kalau kamulah orang yang menciptakan lagu Nina Bobok. Aku juga cerita kamu pernah menolongku. Ibu percaya denganku. Dia suka banget dengan lagumu, aku juga suka buaaanget.. Sampai-sampai ibu berpikir kamu orang seni yang handal karena penampilan kamu juga pas-pasan. Jadi ibu nggak marah lagi deh.” jelas Nina.
Mereka berdua ngobrol dengan asiknya.
Akhirnya Tompel bisa leluasa bertemu dengan Nina. Keinginannya pun sudah tercapai. Kalau berada didekat Nina si Tompel serasa di surga. Meski derajat hidupnya tak berubah namun ia merasa senang akan keberhasilannya menemui Nina. Semua itu berkat sebuah lagu ciptaannya. Nina bobok……

0 komentar:

Posting Komentar

Detik News

Olahraga KOMPAS

Eramuslim: Berita

www.kangmasaim.blogspot.com

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP